Archive for the ‘Perjalanan’ Category

1. Sempu Part I (Segara Anakan)
(13 September 2010)

Lebaran tahun 2010 bertepatan dengan musim penghujan, tepatnya bulan September. Teman masa SMP saya, Arief, yang berdomisili di Jakarta kali ini pun mudik ke kampung halamannya, Turen, sebuah kecamatan di Malang bagian selatan. Saat itu dia masih lajang, jadi masih suka mampir ke rumah kalau sedang mudik. Demikian juga Erwin, teman masa SMP juga, yang sering jadi teman minum kopi karena rumahnya tak jauh dari tempat tinggal saya.
Bertiga, kami ngobrol ringan diselingi minum kopi, sampai suatu ketika Arief punya usul untuk mengajak kami jalan-jalan ke Segara Anakan Pulau Sempu, yang lagi marak dibicarakan teman-teman yang lain. Karena memang jarak Pulau Sempu dengan tempat kami relatif dekat, 1 jam perjalanan dari Turen ke Sendang Biru, maka tanpa pikir panjang kami sepakat berangkat keesokan harinya.

Esoknya, jam 7 tepat, sebuah mobil sedan berhenti didepan rumah, Arief dan Erwin sudah siap didalam mobil, Yusron, adiknya Arief juga ikut serta dan bertugas jadi sopir. Saya sudah siap dengan tas kecil berisi kamera digital, dan sebotol air putih. Kami memang berniat tidak menginap, jadi tidak membawa perlengkapan dan bekal selain itu.

Wuuusshh… sopirnya ngebut, di tengah perjalanan, tepatnya Desa Sitiarjo kami berhenti di Warung Nasi langganan Erwin, kami beli nasi bungkus untuk makan siang nanti di Pulau Sempu. Kami pun segera meluncur mengejar waktu, tepat jam 11 kami tiba di pintu masuk Pantai Sendang Biru. Untuk masuk ke kawasan Sendang Biru dikenai karcis 7 ribu per-orang.

Sesaat kemudian kami patungan untuk biaya perahu sebesar 100 ribu PP, jurusnya lajang-lajang katrok adalah patungan alias urunan! Cuma saya yang sudah berkeluarga 😛
Maka menyeberanglah kami berempat dari Pantai Sendang Biru menuju Teluk Semut, pintu masuk rute menuju Segara Anakan, ditempuh dalam waktu 15 menit dengan perahu bermotor tunggal. Perahu tak bisa merapat sedekat mungkin dengan daratan karena banyaknya karang, jadi kami nyemplung ke air setinggi paha.

Setelah sepakat dengan pemilik perahu agar menjemput kami pada sore harinya, kami pun memulai langkah dan…. wooow! Track jalan setapak setelah diguyur hujan lebat kemarin, hasilnya adalah seperti berjalan ditengah sawah. Baru seperempat jam kami berjalan harus diselingi dengan lengketnya sendal kami ke lumpur, bahkan tak terhitung badan limbung dan gedebukk… jatuh terduduk, sampai akhirnya nasi bungkus yang kami bawa jatuh ke lumpur. Di sepanjang jalur setapak kami sering bertemu rombongan pengunjung lain, baik yang sudah akan pulang maupun yang berangkat seperti kami. Satu jam berlalu, setengah jalan sudah terlewati, dan pakaian kami belepotan lumpur. Pantang balik, jalan terusss… naik, turun, becek dan kepikiran bekal nasi bungkus kami yang sudah tercampur lumpur!

Jam 2 siang akhirnya kami melihat dari jauh air yang kehijauan dikelilingi bukit dan batu karang berlubang ditengahnya… Yieeii!! Tinggal beberapa langkah lagi! Dan akhirnya trek yang berat itu terbayar dengan keindahan dan eksotisme Segara Anakan, sebuah laguna impian.

GambarPengunjung saat itu relatif sedikit, jadi kami sangat menikmati, meski harus memilah nasi bungkus kami dari lumpur, keindahan Segara Anakan melarutkan keletihan kami. Pasir putih yang bersih, pantai tak berombak dan dangkal. Sangat sayang kalau kami tak menceburkan diri.. 🙂

Tampak dibalik pohon-pohon ditepi pasir Segara Anakan, monyet-monyet bergelantungan dan memperhatikan kami, bahkan ada segerombolan monyet turun ke Segara Anakan, tapi keburu menjauh saat ada manusia yang mendekatinya balik. Maaf nyet, kami ganggu ketenangan kalian di surga yang tersembunyi ini.

Hanya 2 jam kami di Segara Anakan, sayang sekali kami harus segera balik karena sudah jam setengah 3 sore, perahu akan menjemput jam 4. Perjalanan menyusuri trek basah lagi, becek-becek’an lagi, tapi kali ini dengan perasaan senang telah menikmati Segara Anakan. Perahu akhirnya datang menjemput saat kami tiba dan sedikit menunggu di Teluk Semut, dalam perjalanan menyeberang ke Sendang Biru, kami berniat untuk kembali kesini lain waktu, dan harus menginap tentunya!

Dalam perjalanan pulang, kami mampir di Warung Mie Pangsit Gedog Wetan, Arief yang nraktir kami,  recommended tenan pangsit disitu. Saya yang nggak suka sama pangsit, tapi pangsit disitu adalah pengecualian. Atau karena saking laparnya ya? Atau gratisnya? hehehe

2. Sempu Part II  (Segara Anakan)
(05 Juni 2011)

Perjalanan ke Pulau Sempu yang kedua kalinya, harus nge-camp dan menginap! Maka saya cari anggota lagi selain Erwin, dan seorang teman yang seirama adalah Tomi, pengusaha konter hape asal Kepanjen. Dia masih lajang seperti Erwin jadi masih bebas pergi kemana saja, hehehe. Arief dan Yusron, tim kami yang pertama, dipastikan tak bakal ikut karena kesibukan.

Hari itu Sabtu, tanggal 5 Juni 2011 jam 11 siang Tomi sudah tiba dirumah saya, tepat dari waktu yang direncanakan. Hal ini sungguh luar biasa melihat kebiasaan Tomi selalu bangun sekitar jam 2 siang! Ckckckck… Tak lama kemudian Erwin yang sudah minta ijin kantor untuk pulang lebih awal, akhirnya datang dan kami mulai memeriksa kembali bekal dan peralatan masing². Tiap orang wajib membawa 3 liter air (2 botol Aqu* 1,5literan), mie goreng dan kopi minimal 3 masing², senter dan lampu. Eits, kami bertiga adalah perokok, jadi minimal 3 pak rokok sudah siap di tas kami, wkwkwk. Saya kebagian paling berat, bawa tenda dan kompor gas mini beserta pancinya, dan jangan lupa bawa gelas plastik dan wadah untuk makan beserta sendoknya.  Pukul setengah 12 kami berangkat naik sepeda, Tomi bawa motor sendiri, sedangkan saya bonceng Erwin. Di tengah perjalanan, yaitu di Desa Sitiarjo kami berhenti di warung nasi untuk beli nasi bungkus sebagai bekal untuk makan saat tiba di tujuan nantinya, yaitu Segara Anakan.

Pukul 1 siang kami tiba di kawasan TPI (Tempat Pelelangan Ikan), kami berencana beli ikan tuna, untuk dibakar di Segara Anakan nantinya. Setelah dapat ikan Tuna seharga 35ribu (harga 1kg=17ribu), kami menyewa perahu nelayan untuk menyeberang (biasanya ada perahu khusus untuk antar jemput ke Pulau Sempu, tapi Erwin punya kenalan seorang nelayan di TPI, jadi daripada jalan lagi ke Sendang Biru maka cukup dari TPI kami sudah bisa menyeberang. Ongkosnya sama antara perahu nelayan dan perahu antar jemput Pulau Sempu, yakni 100 ribu, cuma, perahu milik nelayan ini pas nggak ada atapnya, jadi kami berpanas-panas ria, huwahuwaaa.
sempu2b

Setelah menyeberang dari TPI Sendang Biru kurang lebih 15 menit kami tiba di Teluk Semut dan mulai menyusuri hutan. Perjalanan lebih nyaman dari yang pertama, karena jalan setapak tidak becek di musim kemarau. Satu jam diselingi rengekan Erwin yang kebagian tugas membawa ikan, sirip²nya yang tajam bikin kakinya ketusuk-tusuk hahaha.

sempu2c

Tampak sekitar 8 tenda saat kami tiba di Segara Anakan, cepat² kami dirikan tenda, takut nggak kebagian tempat! Wew, rupanya semakin banyak orang tau keberadaan surga tersembunyi ini… darimana lagi kalau bukan dari internet. Semua pada penasaran akan keindahan laguna jawa, Segara Anakan.

Tenda kami berada dipaling depan, didekat bibir pantai Segara Anakan. Setelah tenda terpasang, makan bekal nasi bungkus tadi, lalu bikin kopi susu, mantaaab! Setelah hari sudah mulai gelap, api unggun kecil mulai dihidupkan dan acara bakar ikan dimuuulai! Asik tenan.

sempu2a

Dan ternyata, kami kena tipu! Bukannya ikan tuna yang kami beli akan tetapi ikan tongkol! Wkwkwwk, ketahuan saat mencicipinya, ketahuan kalau nggak bisa membedakan antara ikan tuna dan tongkol hahaha, payah. Tapi tetep seru kok, meski ikan sebesar itu akhirnya sisa banyak.

Satu hal yang kami sepakati, SEGARA ANAKAN TERLALU RAMAI, kami jalan² ke Segara Anakan adalah untuk refreshing, bersantai, ber-nyaman² ria, jauh dari keramaian, dan yang ada malah nyanyian² sumbang pengunjung lain dari siang sampai larut malam bahkan ada yang ramai² berjoget sambil teriak² gak jelas, hadeeeehhh. Harusnya mereka² yang alay semacam itu bisa jalan² ke mall atau diskotik aja ya, mengganggu alam dengan hiruk pikuknya, dengan sampah²nya…

Jadi untuk trip selanjutnya, kami berencana nge-camp di salah satu deretan pantai di bagian selatan Pulau Sempu.

3. Sempu Part III  (Pantai Panjang/Long Beach/Lost in Sempu)
(10 Oktober 2011)

Selang 4 bulan setelah camping kami di bulan Juni, sudah waktunya mengunjungi Sempu 🙂
Tim utama tetap kami bertiga, saya, Tomi dan Erwin, peserta bertambah 1 orang lagi yaitu Mamat, saudara jauh Tomi yang berdomisili di Surabaya. Setelah mengatur jadwal ngetrip disepakati, tanggal 10 Oktober 2011 kami berangkat berempat dan tetap dengan bermotor ria. Dan ingat, BUKAN Segara Anakan tujuan kami, tapi salah satu pantai di bagian selatan Pulau Sempu, bisa dilihat di peta pantai yang kami maksud adalah antara “c” sampai “i”.

mapsempuuu

Setelah mampir ke TPI untuk beli ikan tuna (kali ini benar² ikan tuna) maka kami segera merapat ke Pantai Sendang Biru untuk menemui Mas Arifin, tukang perahu yang kami percaya mengatar jemput kami ke Pulau Sempu. Mas Arifin adalah kenalan Erwin, seorang mantan nasabah Erwin saat Erwin masih bertugas di wilayah Malang selatan.

Dua motor kami titipkan juga di Mas Arifin, entah dia parkir di rumahnya ataukah dia titipkan di warung dekat situ, yang pasti keamanannya bisa dipertanggung jawabkan, itu kata Erwin, kami pun percaya. Ritual menyeberang kali ini juga disertai jepret foto, hehehe, ini yang ngambil gambar Erwin, jadi kasihan dia gak ada di foto wkwkwkwk.

sempu3a

Sampai di Teluk Semut dan janjian sama Mas Arifin untuk menjemput kami esok harinya diwaktu sore, maka kami pun melangkah menuju hutan. Bulan Oktober kali ini adalah kemarau panjang, jalur setapak begitu kering dan penuh daun² kering yang berserakan. Ini adalah ketiga kali (bagi saya dan Erwin) ke Pulau Sempu, Erwin dengan santainya menyeletuk “Ah, aku iso mlaku karo moto merem” yang artinya Aku bisa berjalan dengan mata tertutup. Maksudnya adalah dia meremehkan jalur jalan setapak sangking kering dan mudahnya untuk dilalui. Memang maksudnya hanyalah bercanda, tapi candaan itulah yang menjadi awal cerita lost in sempu ini.

Saat itu kita berempat baru sekitar 50 meter melangkah dari Teluk Semut, kami bertemu dengan sebuah rombongan muda mudi, tampaknya mahasiswa, sekitar 11 orang, 3 di antaranya adalah cewek. Mereka nggak tau jalur, jadi ingin mengikuti langkah kami, dan kami pun meng-iya-kan seraya menyombongkan diri bahwa kami sudah 3 kali datang kesini.

Limabelas menit berlalu, setengah jam berlalu, sepertinya kami tak mengenali jalur yang kami lalui. Kami berempat yang berada di barisan terdepan kasak kusuk sendiri mengenai hal ini, malu kalau diketahui rombongan yang mengikuti kami. Dan akhirnya 1 jam berlalu, bukannya Segara Anakan yang kami jumpai melainkan Pantai Baru (menurut penjelasan tukang perahu setelah kami pulang), yang ternyata terletak di bagian barat Pulau Sempu.

Yap! Kami tersesat! 1 jam yang seharusnya kami sampai di Segara Anakan, kami malah menjumpai pantai dibagian barat Pulau Sempu, letaknya adalah tepat ditengah jalur antara Teluk Semut dan Segara Anakan. Makanya.. kalau sedang di hutan, di gunung, jaga ucapan, jaga sikap. Tapi, eh, bukan hanya di hutan dan di gunung saja kan, di mana² kita memang harus bisa jaga ucapan dan sikap :p

Maka selain kehabisan waktu, kami juga harus menanggung malu terhadap rombongan yang ngikuti kami tadi huwahuwa. Untunglah mereka gak protes, mungkin mereka takut, karena Tomi saat itu pegang belati besar hahahaha. Kami mulai kembali, mencoba mencari jalan karena kami sudah mulai kehilangan jalur setapak, tak jarang harus menyibak pohon² kecil, ranting², akar², bahkan menaiki bukit terjal untuk mencari sinyal. Karena dengan adanya sinyal, Tomi bisa mengakses GPS lewat HPnya.

sempu3b

Setelah posisi diketahui, Tomi bergegas kebawah bukit untuk mencari jalur sembari berteriak saat mendengar suara orang ngobrol. Dan akhirnya kami bertemu dengan beberapa pengunjung dibawah bukit! Syukurlah kami kembali ke jalan yang benar, heheheh. Kami berempat, beserta rombongan tadi yang masih mempercayai untuk terus mengikuti langkah kami (wkwkwk) tiba di Segara Anakan setelah memakan waktu sekitar 2-2,5 jam perjalanan.

Kami berempat hanya akan melewati Segara Anakan, jadi kami berpisah dengan rombongan tadi dan segera melanjutkan perjalanan menaiki bukit, menuju pantai yang menurut kami nyaman untuk nge-camp. Karena saat itu di Segara Anakan juga penuh dengan tenda², teriakan² histyeris makhluk² alay, serta sampah yang berserakan, hedew!

Dari Segara Anakan, naik bukit 15 menit kita bertemu dengan Pantai Kembar I, tak ada orang, tapi pantainya kecil dan angin terlalu kencang untuk nge-camp, kami bergegas memutari bukit lagi dan menjumpai Pantai Kembar II. Namanya juga kembar, jadi nggak jauh beda sama yang ke-I.

sempu3e
Kami cepat² melanjutkan langkah. Hari mulai petang, menaiki bukit dari Pantai Kembar II kami percepat agar tak kemalaman. Menuruni bukit karang yang curam dengan menapaki tangga kayu yang dibuat seadanya, kami tiba di Pantai Panjang. Hal yang pertama dapat dijumpai disini adalah hamparan lempengan² batu besar yang seperti tertata dibagian barat bibir pantai.

Setelah buru² pasang tenda di Pantai Panjang, hari sudah gelap, jadi acara bakar² ikan dimulai lebih awal. Minum kopi disertai ngobrol² pun dipercepat dan segera tidur karena kelelahan setelah tersesat tadi siang, heheheh.

Pagi harinya kami disuguhi pemandangan yang indah dengan suasana yang nyaman, sepi dan bersih. Kompor gas saya keluarkan dari tas yang selama ini menemani perjalanan mbolang dan mulai merebus air untuk masak mie goreng dan kopi. SIangnya kami berkemas-kemas dan kembali ke Teluk Semut untuk dijemput Mas Arifin. Sebelum itu foto dulu lah Segara Anakan sewaktu melewati dan mampir sebentar untuk nyebur.

sempu2c

4. Sempu Part IV  (Pantai Kelima)
(14 April 2012)

Sudah setengah tahun berlalu, rencana tinggal rencana tapi tak juga fix hingga rencana untuk ke Pulau Sempu gagal lagi dan gagal lagi. Sampai kami bertiga, saya, Erwin dan Tomi sudah tak sabar untuk kesana, tanggal 14 April 2012 akhirnya kami bisa menjenguk Pulau Sempu lagi. Tujuan kami kali ini adalah Pantai ke-7, Pantai Tanjung Harapan. Jika dilihat di peta Sempu (Sempu Part III) Pantai Tanjung Harapan adalah pantai “i”, karena dilihat dari pencitraan satelit via google earth, pantai tersebut keliahatn indah beserta hamparan savananya.

Bertiga, kami bertolak dari rumah saya dengan mengendarai motor dan tetap mengandalkan Mas Arifin sebagai tukang perahu kami. Meskipun tujuan kami adalah pantai paling tenggara, mau tidak mau kami harus tetap melewati rute utama, yakni rute Segara Anakan. Karena untuk menyusuri hutan lewat jalur tengah, kami belum siap akan resikonya. Jalur tengah adalah jalur yang dimulai dari Pantai Waru, berada di bagian timur Pulau Sempu yang menghadap ke utara, melewati hutan belantara yang jarang dilewati orang, melalui Telaga Lele yang notabene adalah sumber air bagi hewan² di seluruh Pulau Sempu, tempat berkumpulnya hewan seperti babi hutan/celeng, biawak, kijang, ular, lutung jawa, elang jawa, bahkan macan kumbang hidup bebas disitu.

Lain waktu sajalah, kali ini kita sepakat lewat jalur umum saja, asal berangkat lebih pagi kita tidak akan kemalaman dihutan menuju pantai ke-7, kami pun sepakat.

sempu4b

Foto dulu sewaktu melewati Segara Anakan 🙂

sempu4c

Sesampai di Pantai Kembar I, kami menemui seekor belibis dengan sebuah tanda dikakinya, mungkin belibis itu obyek konservasi BKSDA selaku pengelola cagar alam ini. Belibis itu diam tak bergerak di pinggir pantai, didekati pun tidak terbang dan hanya memandangi kami yang mencoba mendekat. Kami tidak mengganggunya, hanya ambil gambar saja kok 🙂

sempu4a
Pantai Panjang terlihatlah sudah, tapi hari sudah mulai gelap, kami harus mengurungkan niat menuju pantai ke-7, cukuplah nge-camp di Pantai Panjang lagi sajalah.

sempu4e

Pasang tenda sebelum akhirnya acara makan dan minum kopi dimulai, kemudian mulai mengumpulkan ranting² kering untuk acara bakar ikan tuna. Setelah hutan mulai gelap, ombak laut selatan berkilauan disinari terang bulan, kami mulai bakar ikan.

sempu4d

Malam itu suasana begitu senyap, yah memang hanya kita bertiga yang nge-camp! Di belakang tenda, gelapnya hutan belantara tampak seperti mengawasi, bunyi²an binatang malam kadang diselingi suara semak yang bikin kami mengira-ngira binatang apakah itu yang berusaha mendekat? Kami khawatir serangan monyet atau babi hutan, maka kami segera mengemasi peralatan masak dan segera tidur di tenda 😀

Pagi hari pukul 6 saya dibangunkan oleh deburan ombak dan Tomi juga beranjak bangun. Erwin masih pulas dengan mimpinya.

sempu4f

Saya dan Tomi ngobrol sambil menyusuri Pantai Panjang menuju timur, dan saat itulah muncul ide untuk mencoba berjalan lebih ke timur lagi, siapa tau bisa menjumpai pantai ke-7? Dan masuklah kami kedalam hutan memutari bukit menuju pantai ke-4. Selang 15 menit, inilah dia, Pantai ke-4.

sempu4g sempu4h

Kembali kami berdua masuk kedalam hutan, kali ini bukan hanya memutari bukit, namun juga menaiki bukit terjal seperti ini.

sempu4i

Keringat kami terbayar dengan keasrian pantai ke-5. Ingin rasanya nyebur ke biru dan jernihnya air laut yang terhalang karang besar, tapi kami takut ke-enakan dan terlalu lama meninggalkan Erwin yang mungkin akan bingung saat bangun hanya dia sendirian yang disana hahahaha.

sempu4j

Kami berdua akhirnya kembali ke Pantai Panjang, menemui Erwin yang sudah bangun dan minum kopi sendirian 😀

Kembali ke rumah tak lupa bawa oleh² berupa cumi² gede buat orang di rumah, harganya berkisar 25ribu seberat kurang lebih 2,5 kg. Cumi segede itu kalau dipresto lalu dibuat tumis, nggak kenyal dan alot seperti cumi² kecil sebesar dua kali ibu jari yang biasanya dijual dipasar 😀

5. Sempu Part V  (lima)
(01 Desember 2012)

Akhir tahun, kembali, kami bertiga berencana ke Pulau Sempu dengan mengajak beberapa teman. Kebetulan, sahabat kami, Acas, anak bengal jebolan pondok pesantren ini barusan pulang dari rantau, jadi kami mengajaknya sekalian. Dan bertambah lagi oleh Yogi, teman SMA saya yang pada reuni SMA lebaran lalu mewanti-wanti saya agar mengajak dia kalau suatu saat mengadakan perjalanan lagi ke Pulau Sempu. Maka personel kali ini lumayan banyak, 5 orang yakni saya, Erwin, Acas, Yogi dan personel yang tak pernah lupa mengenakan udeng (ikat kepala dari batik) kalau lagi mbolang, yaitu Bung Tomo alias Tomi, wkwkwkwk. Mengandalkan tenda saya yang berukuran kecil dan muat paling banyak untuk 3 orang, akhirnya Yogi beli sebuah tenda meski itu pun tenda darurat yang penting bisa dipakai untuk ngecamp lah.

432239_514356511915961_976795811_n

Saya, Erwin, Yogi, Acas, Tomi. Formasi terbanyak dalam berAdventure-Ria ke Pulau Sempu.

Oh iya, setiap kami melakukan perjalanan ke Pulau Sempu, yang mengantar menyeberang adalah mas Arifin dengan perahu motornya. Dia adalah pemuda kampung setempat yang memang sudah mengenal Erwin, lebih tepatnya mas Arifin ini adalah mantan nasabahnya Erwin. Udah, gak perlu saya jelaskan lebih lanjut ya, capek :p mending lihat² foto aja 😀

481692_514377715247174_1556459774_n

Yogi dan Acas. Personil baru.

74205_514349335250012_1866122337_n

Kali ini kami terlalu narsis 😀

Tujuan utama adalah Pantai Tanjung Harapan, pantai paling pojok sebelah tenggara Pulau Sempu, dengan mengambil rute Segoro Anakan, karena kami belum siap untuk mengambil rute tengah yang notabene melewati Telaga Lele, Telaga Dowo dan Telaga Sat.

Cerita selengkapnya masih begitu sulit untuk saya ingat, entahlah, di usia saya yang masih relatif muda (:D) ini sudah sulit untuk merekam jejak yang seharusnya tak terlupakan, maka dari itu, bagian ini saya persingkat dengan menampilkan foto² saja ya.

424937_514609781890634_889472897_n

Suatu senja

65187_515112635173682_97594940_n

Jajaran bebatuan di pantai ke-4

18897_514608071890805_291109923_n

Lempengan bebatuan di Pantai Panjang

255184_514372111914401_1649622184_n

Semua serba 5 ! Perjalanan ke-5. Pantai ke-5. dan 5 personil.

Setelah melewati Segara Anakan, Pantai Kembar 1, Pantai Kembar 2, Pantai Panjang, pantai ke-empat dan pantai kelima, kami menaiki sebuah karang setinggi 3 meter melalui anak tangga yang dibuat dengan sekedarnya saja itu. Sesampai di atas, terlihat laut lepas dengan karang yang curam dan tak kami temui jalan setelah itu. Hari sudah mulai petang, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore hingga mau tak mau kami harus membatalkan niat menuju pantai ke-7, Pantai Tanjung Harapan.

Kami akhirnya kembali turun menuju pantai ke-5 untuk mendirikan tenda. Tak mengapa, toh pantai yang satu ini juga nyaman dan indah kok. 🙂

577751_514593378558941_1297120096_n

Ombaknya gede

481720_514360761915536_1802202567_n

Sunset tertutup bukit karang

217995_514376888580590_80637553_n

Sufi. Mulai dari berangkat pagi hari, berjalan naik turun bukit, sampai sore tetiba di pantai ke-5, belum sekalipun makan dia 😮

558957_514592648559014_1888462933_n

Malam harinya, kedua tenda itu sempat harus diangkat dan dipindah karena terkena ombak pasang, hujan yang bikin tenda kami seperti kolam renang.

526288_558803730804572_1479658459_n

Foto tanpa tema -_-‘

532650_514364971915115_25694372_n

Dari dulu dia memang suka iseng…

74236_514367308581548_1618831426_n

Karena pantai ke-5 ini belum punya nama (setidaknya menurut kami, paling² pihak pengelola/Perhutani juga sudah ngasih nama pantai ini), maka kami putuskan memberi sebutan pantai ini, Pantai Acas 😀

21919_514352625249683_616270051_n

Selasai berkemas, diabadikan dulu momennya.

44889_515003481851264_552207986_n

🙂

319610_515007251850887_1759681568_n

Diperjalanan pulang, santai dulu sambil ngopi.

Sempu Part V, tamat.

6. Sempu Part VI  ()
(06 September 2013)

Kriiiiinggg…… hari itu hari Kamis, telepon berdering (bunyi hape saya memang begitu, seperti bunyi telepon jadul, heheh). Kakak saya, Mas Feri telepon minta tolong agar menyiapkan tenda dan kompor mini untuk dipinjamkan ke temannya yang akan mengambilnya di rumah saya. (Mas Feri tinggal di Malang, jadi bukannya kami telpon²an serumah).

Ternyata yang mau pinjam perlengkapan kemping adalah teman yang didapatnya sewaktu naik Gunung Semeru beberapa tahun lalu, namanya Rizal, pemuda seumuran dibawah saya dari Bandung. Dia dan beberapa temannya sebanyak 4 orang berencana ke Sempu menginap semalam. Mas Feri juga ingin agar saya menemani mereka ke Sempu. Tanpa pikir panjang, agak panjang juga sih mikirnya, maka saya menyanggupinya.

Hari Sabtu, rombongan datang dan setelah acara kenal²an sembari ngopi, kami pun budaaaallll.

555365_650652144953063_72500991_n

Perahu yang kami gunakan kali ini bukan perahunya Mas Arifin.

1233413_653485848003026_954617244_n

kip semailll

1176262_650733621611582_1645744484_n

Trek lumayan gak becek

Tujuan utama mbolang kali ini adalah Segoro Anakan, gak ke pantai² selatan Pulau Sempu. Makanya, jadwal keberangkatan pun gak perlu pagi² sekali.

1233361_650642688287342_1602468609_n

Segoro Anakan semakin lama semakin ramai pengunjung… dan semakin kotor..

1002537_653503891334555_1768751206_n

Area perkemahan dilihat dari puncak bukit karang bolong

1235347_650647148286896_497404561_n

Segoro Anakan lagi ngambek, mulai dari kami datang, hingga pulang, keadaannya ya seperti ini, surut…

1001588_650650461619898_2046899491_n

Narsis dulu di puncak bukit karang bolong dengan background laut selatan.

1239379_653507114667566_543460588_n

Jika kalian ke Segoro Anakan, jangan lewatkan menaiki bukit karang bolong saat sunset.. indah sekali jika dilihat secara langsung

1011655_650648958286715_1685481019_n

Rizal on sunset

1236739_650646034953674_1352173433_n

Laut lepas dibalik area kemping

1234402_650737561611188_2074251899_n

Pulang. Aji, Ayum, (lupa namanya), Rizal, Yukiko, Wijang, sayaaa.

1234089_653492531335691_1367305098_n

Habis capek²an, makan bakso dulu dirumah.

TAMAT.

7. Sempu Part VII  (LOST)
(13 Oktober 2013)

Satu bulan setelah terakhir saya ke Pulau Sempu bersama teman-teman baru, Erwin kembali mengajak untuk berkunjung lagi. Kali ini dengan formasi saya, Erwin, Yogi dan Anna. Anna adalah istri Yogi dan satu²nya perempuan yang ikut. Tomi tidak bisa ikut karena sedang dalam proses persiapan pernikahannya, horeee akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya!

Kali ini Yogi bawa mobil pick-upnya dengan saya dan Erwin naik dibak belakang. Diperjalanan, tepatnya Desa Gedog, seperti biasa Erwin mengusulkan beli makanan untuk bekal makan siang nanti. Dan pagi itu, nggak ada suatu pertanda apapun bahwa sesuatu bakal terjadi diluar perkiraan kami…

Dan seperti biasa, kami selalu menerobos pos masuk tanpa menghiraukan lambaian tangan petugas yang meminta kami karcis masuk menuju Tempat Pelelangan Ikan, yup, kami selalu lewat jalur TPI karena jalannya bagus dan lebih dekat ke lokasi penyeberangan, dan juga, pos jaga disini bisa dilewati begitu saja meski mereka selalu mencegat kendaraan yang lewat, paling² cuma dilihat nggak dikejar. Tapi kali ini, saat kami naik mobil pick up, kami dikejar petugas sampai ke tempat parkir dan akhirnya Anna harus rogoh kocek sekitar 25ribu untuk kami berempat.

Mas Arifin dengan perahunya telah siap mengantar kami, dan “petualangan baru”, dimulai…

1385686_670600142958263_1934768585_n

Sebuah awal dimana keputusan mendadak telah mengubah rute kami

Dan inilah awal terjadinya, dalam perjalanan menyeberang dari Pantai Sendang Biru ke Pulau Sempu, Mas Arifin seperti biasa menanyakan tujuan kami, ke Segoro Anakan ataukah mencoba lagi mencari Pantai Tanjung Harapan. Dan dengan semangat kami jawab, tentu saja Pantai Tanjung Harapan, atau paling tidak pantai-pantai lain disepanjang selatan Pulau Sempu, Segoro Anakan bukan lagi tujuan utama kami karena terlalu ramai dan kotor oleh pengunjung² yang selalu ramai di setiap akhir pekan seperti sekarang ini.

Kali ini Mas Arifin menawarkan kepada kami untuk berlabuh di Pantai Waru, dan melewati jalur tengah yang kami pun belum mengetahui medannya. Tapi penjelasan Mas Arifin yang meyakinkan membuat kami ingin sekali mencoba jalur tengah itu… dan kami berempat, sepakat lewat jalur tengah! Perahu pun berbelok menuju timur, ke Pantai Waru.

Sesampai merapat di Pantai Waru, dan harus menyeburkan diri hingga air laut menyentuh lutut, kami pun mulai bersiap-siap memasuki jalur tengah. Saat itu Erwin berucap kata-kata yang sedikit meremehkan medan dan kami tak menanggapinya serius. Dan memang, jalan setapak yang mengawali jalur kami sangat mudah dilalui, jalan setapak berbatu sebesar kepalan tangan itu persis seperti apa yang dikatakan Mas Arifin, sesaat yang lalu dia juga bilang jika ada persimpangan maka kami disuruh untuk memilih kekiri.

Sudah seperempat jam kami berjalan menapaki jalan setapak berbatu, tidak terlalu menanjak tidak pula terlalu menurun, sungguh nyaman perjalanan jalur tengah, pikir kami, hingga kami menemui persimpangan jalan. Mengingat apa yang dikatakan Mas Arifin tadi, maka dengan yakin kami memilih jalur kiri yang tak lagi dihiasi bebatuan.

Setengah jam kami berjalan, menanjak dan jalur setapak itu akhirnya buntu! Yah.. tiba² tak ada lagi jalur setapak, tertutup pohon² kecil dan tak ada lagi petunjuk. Mau kembali, sudah terlalu jauh, setelah kami cari² andai saja ada belokan yang terlewat tapi hasilnya nihil. Akhirnya kami memutuskan untuk terus dengan mengikuti petunjuk berupa pohon² kecil yang dibacok, yang kami artikan bahwa itu adalah jalur yang pernah dilalui orang.

Semakin jauh semakin sering kami menemui kesulitan menemukan jalan, sampai kami harus menerobos semak², pohon² kecil setinggi badan kami, ranting² yang berduri. Beberapa waktu kami istirahat, kami benar² tersesat, tak bisa terus dan tak bisa kembali. Benar² tak ada tanda² bahwa tempat kami berpijak pernah didatangi manusia. Beneran ini, saya gak lebay heheheh.

Mulai jam 11 siang tadi saat kami mengawali perjalanan jalur tengah, hingga hari menjelang petang, yang kami temui hanyalah hutan yang semakin lebat, tepian jurang lautan lepas dan beberapa suara hewan² mengejek kami. Bahkan saya sempat dikejutkan oleh seekor biawak sebesar badan saya, lari pontang panting didepan saya. Padahal saya juga takut…

Tak ada sinyal di hape kami, tak ada satu pun bantuan yang bisa kami minta. Yang bisa kami lakukan adalah dengan mengikuti arahan sinar matahari, kompas digital di hape Yogi dan ilmu kira² kami. Semuanya nihil, tak ada jalan, tak ada manusia di hutan ini, kami hanya bisa berdoa dan semakin masuk ke lebatnya hutan Pulau Sempu. Duri dan semak serta bukit seperti sama bagi kami, seperti berputar dan luka terkena duri, semak tak terasa sakit oleh keputus asaan kami.

Hari menjelang petang, berkilo-kilo dan berjam-jam berjalan menerobos semak hutan yang lebat, harus dilakukan setidaknya menemukan pantai manapun diselatan Pulau Sempu. Apalagi ada personil perempuan disini, kasihan…

Hingga malam menjelang, kami masih berharap menemukan tempat terbuka untuk mendirikan tenda, menaiki batu karang, menyeruak semak², masih nihil. Maka gelap pun datang… dan perjalanan semakin berat dan menjatuhkan mental kami. Saat itu Erwin berada dipaling depan, diikuti Anna, Yogi, dan saya. Dengan penerangan senter kecil Erwin mencoba keberuntungan dan koaaaakkk.. koaaaaakkk… suara keras tepat didepan kami, meskipun tak terlihat cukup untuk menghentikan langkah kami.

Maka diputuskan, perjalanan harus dihentikan dan dengan terpaksa harus membuat areal terbuka sendiri untuk mendirikan tenda. Menggunakan parang bergagang besi, saya, Yogi dan Erwin mulai membabat pohon² kecil dan belukar agar bisa dipakai untuk mendirikan 2 tenda. Dua tenda sudah terpasang ditengah gelapnya hutan yang lebat, penerangan dipercayakan pada lampu led beramunisi baterai milik Yogi.

Kami benar² khawatir tentang apa yang bisa terjadi saat itu, perlu diketahui, Pulau Sempu adalah cagar alam yang tak berpenduduk, berisi hewan² liar antara lain babi hutan, lutung jawa, monyet, biawak, berbagai jenis ular besar, elang jawa, dan juga.. macan kumbang! Tapi rasa lapar mengalahkan ketakutan kami. Bagaimana pun juga perut ini harus di isi. Saya pun mulai mengeluarkan kompor mini beramunisi gas dan mulai memasak air untuk bikin pop mie dan kopi. Kali ini kami makan dan minum kopi didalam tenda, karena tak terbayang mencekamnya malam itu diluar tenda. Bahkan sinar bulan pun tak menembus lebatnya hutan.

……………………..

Keesokan harinya, pukul 8 kami yakin akan lebih mudah menemukan jalan. Setelah beres² tenda dan mulailah petualangan dihari kedua. 1 jam, 2 jam, belum juga membuahkan hasil. Tak ada yang bisa kami temukan meski dalam keadaan terang benderang seperti ini, lagi² menemui jurang laut lepas, terlalu menepi ketimur. Kompas tak membantu sama sekali, yang ada hanya memutar-mutar jalan kami. Pukul 10, kami memutuskan untuk mencari area bersinyal, untuk meminta pertolongan, paling tidak sebuah arahan.

Akhirnya perjalanan menuju ke sebuah bukit dan kami bersusah payah mencari sinyal satelit. Terkadang ada dan tiba² hilang. Hingga akhirnya kami berhasil menghubungi Tomi dan Mas Arifin, Yogi juga berhasil menelepon orang tuanya yang ikut mendoakan agar perjalanan ini selamat. Saya pun menghubungi keluarga dirumah yang juga jadi khawatir tentang keadaan kami. Mendengarkan hal ini, Tomi menyarankan agar kami diam ditempat dan dia akan melaporkan berita kehilangan ke pos Perhutani di Pantai Sendang Biru. Aahhh.. saran yang terlalu berputus asa! Masuk ke Pulau Sempu saja kami tak melapor, yang kena masalah pasti bukan hanya kami, tapi juga Mas Arifin. Saya pun melarang Tomi melakukan hal itu.

Telepon kedua, saya menghubungi Mas Arifin yang terdengar begitu gugup karena dia lah yang mengantar kami sekaligus mencetussss ide lewat jalur tengah. Dan seperti yang kami duga, ke-tersesat-an ini dia yakini sebagai hal yang mistis, dan kami harus memakai baju serba terbalik agar dapat menemukan jalan pulang. Tentu saja sebagai muslim kami lebih mempercayakan berdoa, berdoa, dan berusaha.

Setiap langkah kami selalu berdoa, apalagi berusaha, tak kurang², maka kami putuskan untuk lebih berusaha dengan melepas baju kami semua, dan memakainya secara terbalik, hiehehe.

Pukul 11 siang, dengan baju terbalik, kami berempat menuju arah utara dengan bantuan kompas digital di hape Yogi yang juga harus dihemat karena baterai semakin menipis meski sudah dibantu Powerbank, berharap menemukan jalan setapak menuju peradaban…

Daaaann Alhamdulillah, akhirnya Yogi menemukan sebuah pita sebagai tanda jalan. Tak terlukis kelegaan kami, menemukan jalan setapak yang ternyata tak jauh dari kami berputar-putar tak jelas. Dengan ditemukannya jalan, diputuskan untuk mencoba ke arah selatan, siapa tau kami menemukan sesuatu? Entah itu Pantai Tanjung Harapan ataukah Telaga Sat atau Telaga Lele.

Setengah jam perjalanan ke arah selatan, kami disuguhi oleh pemandangan yang tak biasa. Sebuah area luas seluas lapangan bola, dikelilingi hutan lebat. Areal tersebut sangat kering hingga tanahnya pecah-pecah dan pucat. 2 pohon besar di tengah areal terlihat mencolok dengan daun²nya yang hijau, sangat kontras. Seperti kata Erwin, areal itu terlihat tak seperti dibumi, tapi lebih mirip di Planet Namek, planet kelahiran Erwin. wkwkwkwk

Yup, tempat itu adalah Telaga Sat, sat adalah bahasa Jawa yang berarti airnya habis, berarti sekali waktu pasti terisi oleh air. Dan kebetulan dibulan Oktober ini adalah musim kemarau sehingga telaga menjadi tak berisi air sama sekali bahkan kering kerontang.

Kami memutuskan untuk beristirahat disini, melepas lelah dibawah pohon rindang. Perasaan yang begitu melegakan setelah 24 jam tersesat ditengah hutan lebat.

1383331_670574466294164_2102511764_n

Telaga Sat

1377037_670671009617843_800000268_n

24 jam tersesat, tak satu pun kami sempat berfoto ria.

Setelah memberi kabar ke Tomi, Mas Arifin, keluarga saya dan orang tua Yogi, bahwa kami telah menemukan jalan. maka kami berempat kembali kearah utara untuk pulang. Bekal sudah menipis dan waktu sudah tersita oleh acara kesasar kali ini batal pula tujuan utama ke Pantai Tanjung Harapan. Seindah apa sih Pantai Tanjung Harapan kok sampai² susah sekali mencapainya?….

Satu jam setengah dari Telaga Sat, kami melewati Telaga Dowo, telaga yang terlihat rimbun oleh rumput² lebat setinggi dada, kami tak sempat mendekat mengingat waktu dan terlihat berbahayanya telaga yang satu ini. Jalan setapak jalur yang dilalui ditandai oleh pita² yang diikat dipohon, menjadikan perjalanan lebih aman dan lancar.

Dan akhirnya pukul 2 siang kami tiba di Telaga Lele, telaga luas yang konon banyak lelenya, maaf saya gak pernah mancing disitu ya. Jadi saya anggap itu adalah konon kabarnya saja. Di telaga ini kami beristirahat lebih lama dan berfoto² ria.

1384349_670221809662763_599136383_n

Telaga Lele

1395827_670826579602286_1356390040_n

Tri Maskentir

Selelai beristirahat, kami melanjutkan langkah menuju Pantai Waru, dimana Mas Arifin akan menjemput kami. Perjalanan dari Telaga Lele menuju Pantai Waru dihiasi jalan setapak berbatu, jadi tak dibutuhkan lagi tanda pita sebagai pemandu. Di tengah jalan, kami sempat bertemu dengan 2 orang penduduk yang sedang mencari madu, kata orangnya. Senang sekali ketemu dengan orang lain setelah tersesat di antah berantah, ingin saya peluk saja 2 orang itu, tapi tampaknya itu hanya akan membuat harga diri saya terinjak-injak hahaha.

1378768_670598749625069_336235654_n

Muka-muka lelah

Dua jam perjalanan sampailah kami di Pantai Waru. Sebelum Mas Arifin datang, kami berempat menyempatkan diri untuk terjun ke pantai yang landai dan asik untuk berenang. Menyeberang ke Pantai Sendang Biru, saya ingin cepat² menenggak minuman dingin sampai habis satu botol, karena setelah diperjalanan tadi, air kami habis tak tersisa sama sekali.

Akhirnya sesampai di Pantai Sendang Biru kami makan bakso dan minum minuman dingin sebagai pelepas lapar dan haus. Semua itu Anna yang bayar, menjadikan makanan dan minuman ini terasa lebih nikmat heheheh, gratis he. Perjalanan pulang diatas pick-up, saya dan Erwin dibak belakang mencoba untuk tidur, demikian juga Anna dikabin depan, Yogi terpaksa menahan lelah dan kantuknya karena siapa yang nyetir mobil kalau semua molor?

Hari menjelang Maghrib sesampai di Desa Gedog Wetan, banyak disepanjang perjalanan arak²an obor, yup! Takbiran Idul Adha! Mungkin tersesatnya kami, karena kami nekat main² kehutan saat menjelang Hari Raya Qurban, tapi Alhamdulillah, kami semua pulang dengan selamat. Dan menurut kabar beberapa hari setelahnya, Yogi dan Anna yang masih harus menempuh perjalanan dari rumah saya di Turen ke Batu, beristirahat alias molor dulu di daerah Pasar Besar Matahari, menepikan mobil dan molor bersama saking capeknya, kasihan Anna, baru ikut sekali langsung diajak nyasar² wkwkwkwk.

TAMAT

8. Sempu Part VIII
(01 Februari 2014)

Empat bulan setelah terakhir saya ke Pulau Sempu, yang berakhir dengan bahagia setelah tersesat selama 24 jam 😀

Saya, Erwin dan Yogi memulai kembali perjalanan menuju Pantai Tanjung Harapan melewati jalur tengah, kami ingin tau, keindahan pantai itu hingga begitu sulitnya untuk dicapai? Kali ini kami sepakat untuk berangkat lebih pagi untuk mengantisipasi waktu.

Pukul 8 kurang seperempat, Erwin sudah datang dirumah saya. Yogi yang biasanya datang lebih awal, sampai pukul setengah 9 masih belum juga muncul. Katanya sih masih di Desa Gondanglegi, 10km dari Turen. Tapi kenapa lewat situ? Jangan² nyusul Tomi? Bukannya Tomi nggak bisa ikut kali ini?

Pukul 9 lebih 15 menit akhirnya Yogi tiba mengendarai mobil barunya, bersama Tomi yang melet² disamping pak kusir yang sedang bekerja! wkwkwkwk, ternyata dia di ijinkan ikut oleh istrinya 😀

Photo-0012

Perjalanan ke Pantai Sendang Biru lebih nyaman naik ini 😀

Setelah mengecek perlengkapan dan perbekalan, kami pun berangkat. Dan tujuan utama adalah Pantai Tanjung Harapan dengan melewati jalur tengah.

mapsempuuu

Pantai Tanjung Harapan adalah pantai paling ujung dari Pulau Sempu (i) dan pantai ketujuh setelah Segoro Anakan.

Seperti biasa, Mas Arifin telah siap mengantar setelah dihubungi via telepon selular oleh Erwin. Kami merapat di Pantai Waru dan memulai perjalanan yang penuh harapan ke Pantai Tanjung Harapan, berharap menemukan keindahan, sunset sore nanti, sunrise esok harinya, dan eksotisnya Telaga Sat.

Tiba dipersimpangan jalan setapak, kami memilih jalur kanan, mengingat apa yang akan terjadi kalau memilih jalur kiri. Dua jam kemudian sampailah kami di Telaga Lele, kali ini Telaga Lele terlihat lebih tinggi permukaan airnya, hingga pohon² disekitar sampai terbenam hingga kurang lebih 1-2 meter, mengingat musim ini adalah musim penghujan, sumber utama Telaga Lele adalah air hujan.

1796515_729459737072303_2137294179_n

Telaga Lele. Masih terasa mistis ditempat ini, sumber air utama bagi penghuni hutan Pulau Sempu.

Melewati Telaga Dowo, mengurungkan niat untuk mendekat, rumput² rimbun itu seakan² siap dengan kejutan, tak mau ambil resiko adanya hewan melata ditempat itu, kami langsung menuju Telaga Sat.

Telaga Sat disaat musim penghujan, ternyata memang terisi air hujan dan tak lagi bisa dilalui, hingga trek berpindah dengan memutari telaga tersebut, sesekali mencoba mencari jalan setapak karena tiba² buntu. Tapi tak lama, kami menemukan kembali jalan setapak dan melanjutkan perjalanan tanpa berhenti di telaga itu.

1601236_729440227074254_888897494_n

Tepat pukul 4 sore, sempat pula dibingungkan oleh terlalu banyaknya pita petunjuk arah, ada yang biru, oranye, putih, pita² itu menyesatkan kami meskipun akhirnya tibalah kita disebuah pantai…. Tanjung Harapan!

1743556_729147130436897_1362917428_n

Pantai yang indah, pantai pribadi lho ini ^_^

Merebahkan diri, menelusuri pasir pantai… tapi kelihatannya ada yangtidak beres dengan Pantai Tanjung Harapan ini… apa ya?

Setelah di ingat², ternyata ini adalah pantai kelima! pantai dimana kami pernah mendirikan tenda di trip kelima… Jadi? Masih pukul 4 sore, kalau diteruskan menyusuri pantai ke-enam dan sampai ke Tanjung Harapan, masih sempat terkejar. Oke, maka perjalanan dilanjutkan dengan memutari bukit, menaiki batu karang melalui tangga usang. Tapi kali ini setelah naik diatas bukit karang, jalan setapak terlihat jelas dan perasaan pun optimis bisa menuju pantai harapan kami.

1797629_729446377073639_1182226941_n

Disini, udara begitu sejuk dan pemandang sangatlah luas dengan karang² yang cukup tajam, setajam.. silet :v

1798855_729567053728238_1639222056_n

Hati², cukup berbahaya trek yang satu ini.

1800368_730040770347533_569607213_n

Ujung Cakrawala

Difoto atas, pantai Tanjung Harapan sudah mulai terlihat, cukup biasa, karena padang rumput yang terpikir hijau ternyata kecoklatan dan pantainya didominasi oleh batu karang. Kita harus turun melewati pantai ke-enam sebelum pantai itu benar² tenggelam oleh air pasang.

Sampailah kita di Pantai Tanjung Harapan! Sambutan yang cukup indah, sebuah sunset menemani saat kita mendirikan tenda.

1517680_729574680394142_2117240140_n

Sunset di Pantai Tanjung Harapan

Setelah bikin pop mie dan kopi, kita masuk ke tenda karena turun gerimis hujan, disertai ombak yang tiba² mencapai tenda kita, maka sebagai prajurit yang baik, kita pasang batu² besar melingkari tenda sebagai benteng pertahanan terhadap serangan ombak pasang. Tapi sayang, benteng berhasil dijebol dan mau tak mau tenda harus kita angkat dan pindah lebih keatas. Air pasang masih tak mau melepaskan, terjangan ombak masih juga mampu menjebol benteng² batu pertahanan yang kami susun lagi. Sudahlah, akhirnya kita pindah lagi tenda ke tempat padang rumput dan segera terlelap diselingi tetesan air hujan yang merembes masuk melalui celah² jahitan tenda Yogi. Rasa capek lebih dominan ketimbang menghiraukan tetesan air, toh hujan berhenti juga.

Pagi² sekali, kita menaiki sebuah bukit melalui padang rumput, lebih tepatnya sebuah tanjung dimana kita bisa melihat sunrise. Diatas sana ternyata kita menemui 2 orang yang sedang berkemas² setelah semalaman mancing ikan dari atas, dan ternyata salah satu dari mereka, yang lebih tua mengaku telah membakar padang rumput hingga terlihat kering terbakar, dan itu semua dikatakan dengan bangga, hadeuuuh -_-‘

1507949_729117557106521_377938817_n

Sunrise dari atas Tanjung Harapan.

1622836_730066727011604_171412671_n

Pantai berkabut di pagi hari.

1798111_730058943679049_1204787127_n

Bikin kopi

10246652_760669190618024_1824718624_n

Sesaat sebelum berkemas pulang

Pukul 8 tepat kita sudah memulai perjalanan kembali pulang, sebelum air pasang menutup jalan pulang kita di pantai ke-enam. Karena kita harus menyusuri karang² dipantai yang sedang surut saat pagi, meskipun akhirnya kita juga harus memanjat dan merayap dipinggiran tebing karang karena saat itu air sudah pasang.

Jalan pulang dari pantai kelima lewat jalur tengah tak juga kita temukan, entah kenapa seperti membingungkan dan sampai akhirnya mau tak mau harus lewat jalur umum bagi pengunjung, yaitu jalur Segoro Anakan. Melewati Pantai Panjang, Pantai Kembar 2, Pantai Kembar 1, say hello ke Segoro Anakan yang sedang ramai pengunjung, kita lanjutkan perjalanan melewati trek basah, lebih tepatnya trek lumpur! Turunnya hujan dan banyaknya pengunjung dengan satu² jalur akses utama membuat jalur ini seperti trek neraka, lumpur dan lumpur, naik dan turun. Bayangkan, dari Pantai Tanjung Harapan pukul 8 pagi hingga sampai ke Teluk Semut pukul 5 sore!

TAMAT

9. Sempu Part IX
(31 Mei 2014)

Kembali, saya teringat kalo punya sebuah blog yang mustinya di urus, hehehe. Buat bahan bacaan kelak, saat lagi kangen²nya kenangan masa lalu. Langsung capcus saja, bulan Mei 2014 jalan² ke Sempu nggak diikuti sobat saya Tomi karena sang istri lagi hamil tua, jadi cukup kami bertiga, saya, Erwin dan Yogi.
Kali ini tema-nya bikepacker, kita naik motor menuju Sendang Biru. Erwin bawa Vario-nya (Vixionnya dah laku juga, setelah sebelumnya saya juga jual Vixion hitam saya), sedangkan saya bonceng di CBRnya Yogi, asli capek banget bonceng motor itu secara nungging duduknya :v
Skip skip… seperti biasaaa, Mas Aripin di call dulu sebelum nyampe Pantai Sendang Biru, dan setelah parkir motor, langsung tancap ke tepian pantai karena kali ini kita juga sudah telat harusnya pagi sudah nyebrang, eh ini sudah siang matahari tepat di atas kepala.
Yup! Kita lewat jalur tengah lagi! Dan bingung nyari jalan masuknya lagi! Wew.. Setiap kali keisni pasti ada yang berubah, terutama semak yang semakin rimbun dan banyak juga pohon yang tumbang disepanjang perjalanan.
Skip skip.. kita skip saja cerita perjalanan selama 3-4 jam dari Pantai Waru ke Pantai Tanjung Harapan-Sempu ini. Saya langsung kasih lihat foto saja lah. Silahkan menikmati :p

Dari Sendang Biru ke Waru-waru Sempu

Dari Sendang Biru ke Waru-waru Sempu

Yogi, peserta paling akhir pecinta Sempu tapi sekarang malah yang paling getol ajak-ajak mbolang.

Yogi, peserta paling akhir pecinta Sempu tapi sekarang malah yang paling getol ajak-ajak mbolang.

Telaga Sat.  Peralihan musim hujan ke musim kemarau, hijau seperti lapangan bola.

Telaga Sat.
Peralihan musim hujan ke musim kemarau, hijau seperti lapangan bola.

Bukit karang

Bukit karang

Sebelum turun ke Tanjung Harapan

Sebelum turun ke Tanjung Harapan

Jangan tanya ini di bagian Sempu sebelah mana ya, heheheh ;)

Jangan tanya ini di bagian Sempu sebelah mana ya, heheheh 😉

Sunrise dari ujung Sempu

Sunrise dari ujung Sempu

Mencoba membidik Milkyway... dan gagal -_-'

Mencoba membidik Milkyway… dan gagal -_-‘

Ini juga pantai coret, maksudnya di peta nggak ada namanya

Ini juga pantai coret, maksudnya di peta nggak ada namanya

Bumi berputar, selalu berpegang yg kuat agar kamu gak jatuh.. :3

Bumi berputar, selalu berpegang yg kuat agar kamu gak jatuh.. :3

Ya udah segitu saja ya, mata ane sudah nggak kuat melek, ngantuk berat. Tapi ingat-ingat ya, jangan tinggalkan apapun selain jejak, jangan ambil apapun selain gambar, dan jangan bunuh apapun selain waktu. Salam mbolangmania :p

Apa sih hebatnya Pulau Sempu? Amazingnya Pulau Sempu? Kok sampai segitunya berkali-kali kesana… Ya, saya sudah 7 kali melakukan perjalanan ke Pulau Sempu, dalam kurun waktu 3 tahun, dari tahun 2010 sampai 2013. Apa nggak bosen? Jawabannya “enggak”.

Pulau Sempu adalah sebuah pulau kecil dengan luas 877 hektar yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa, berbatasan dengan Pantai Sendang Biru disebelah utara, dan Samudera Hindia disebelah barat, timur dan selatannya. Pulau ini berada dalam wilayah Kabupaten Malang – Jawa Timur. Saat ini Pulau Sempu “masih” merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Dikatakan “masih” karena setelah terjadi perdebatan panjang antara pihak pengelola (Dinas Kehutanan/BKSDA), perwakilan Pecinta Alam, dan penduduk setempat, dicapai hasil sementara bahwa Pulau Sempu diturunkan statusnya menjadi “boleh untuk umum” meskipun status resminya masih Cagar Alam (baca definisi dan aturan-aturan tentang “cagar alam”), sehingga pro dan kontra masih terjadi perihal pengunjung.

Dalam pulau ini nyaris tidak ditemukan mata air payau, dikatakan nyaris karena baru-baru ini saya dengar kabar ada sumber air di Pulau Sempu yang disebut-sebut Banyu Towo. Ada juga sih, pernah nemu di dekat sebuah pantai di bagian selatan Pulau Sempu, tapi lebih seperti air tadah hujan? IDK it for sure.

Nah, di pulau tanpa penduduk ini dihuni oleh bermacam satwa diantaranya macan tutul/kumbang, biawak, ular pyton, ular cobra, ular ijo, kelinci, babi hutan, lutung jawa, monyet dan kijang. Sebagian besar ular berasal dari sitaan yang kemudian dilepaskan di Pulau Sempu. Mengenai macan kumbang bukan hanya cerita fiktif karena kakak saya melihat langsung pelepasan macan-macan tersebut di Pulau Sempu sekitar tahun 1990-2000, dia sudah lupa -__-‘…. Mengapa kakak saya bisa melihat langsung kegiatan tersebut? Karena kakak saya Petugas Perhutani yang notabene sebagai pengelola cagar alam Pulau Sempu melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Jadi bisa diyakini berita tentang masih adanya macan di Pulau Sempu bukan isapan jempol belaka.

Didalam kawasan Pulau Sempu, sebagian besar adalah hutan belantara yang rimbun, terdapat pula 3 telaga, yaitu Telaga Lele, Telaga Dowo dan Telaga Sat. Namun tujuan utama para pengunjung adalah Segara Anakan, sebuah laguna yang sangat indah, terletak di bagian barat daya Pulau Sempu.

GambarCitra satelit Pulau Sempu

Rute utama para pengunjung adalah dari Sendang Biru (a) menuju Teluk Semut (b) selama kurang lebih 15 menit menyewa perahu, seharga 100ribu PP, kemudian menyusuri track hutan bagian barat Pulau Sempu selama 1-2 jam (bisa 3 jam atau lebih jika musim penghujan, beceeekk), menuju ke Segara Anakan (c). Untuk spot pantai-pantai dari “d” sampai “i” jangan harap bertemu orang… Kecil kemungkinan ada pengunjung ke pantai-pantai tersebut. Apalagi rute “jalur tengah”, yaitu dari Sendang Biru (a) merapat ke Pantai Waru (j), menyusuri bagian tengah Pulau Sempu yaitu hutan belantara, melewati Telaga Lele (k), Telaga Dowo (l) dan Telaga Sat (m). Rute tersebut adalah jalur utama para peneliti, dan merupakan wilayah interaktif binatang-binatang dikarenakan dekat dengan sumber air yaitu Telaga Lele.

Setiap pengunjung mestinya harus didampingi guide. Ini karena pengunjung Pulau Sempu rawan tersesat. ‘’Orang rawan tersesat karena tidak tahu jalur. Terdapat sekitar 25 persimpangan jalan setapak di Pulau Sempu, Jalan setapak itu bukan jalan yang disediakan untuk wistawan. Melainkan jalur patroli petugas’’ ujar Setyadi, Kepala Resort BKSDA Pulau Sempu. Beliau juga mengakui banyak terjadi peristiwa-peristiwa mistis di Pulau Sempu, yang mengakibatkan sering terjadi orang tersesat. Namun demikian, sampai saat ini tidak pernah ada catatan pengunjung Pulau Sempu yang diserang binatang buas.

Demikian sekelumit penjelasan tentang Pulau Sempu, jika masih ada yang kurang jelas silahkan tanya saya, kalau saya gak bisa menjawab, silahkan tanya mbah gugel aja ya heheh… Selanjutnya, saya ingin berbagi cerita perjalanan-perjalanan saya ke Pulau Sempu, beserta foto-foto di postingan saya lainnya, selamat membaca.